SAMARINDA — Dugaan praktik oplosan oli kembali menghantam Kalimantan Timur. Sumber oli dari Muara Madak pelabuhan toko 5 dan dari Balikpapan perusahaan scorpio dan shell, kini sorotan mengarah ke empat gudang di Samarinda yang diduga menjadi pusat distribusi produk oplosan dalam skala besar.

Temuan ini membuka tabir bahwa jaringan distribusi tersebut berjalan terstruktur dan memanfaatkan celah pengawasan dari hulu ke hilir.
Empat lokasi yang disebut menjadi titik penjualan utama adalah:
1. Jl. Harun Nafsi
2. Harapan Baru
3. Karangpaci
4. Pinang (Suryanta).
Keempatnya diduga menerima pasokan dari Muara Badak serta titik pengiriman di Balikpapan, termasuk dari Pelabuhan T5, distributor S.
Strategi Jaringan: Menggunakan Oli Asli untuk Menyamarkan Oplosan
Menurut sumber, jaringan ini tidak sekadar membuat oli palsu, tetapi menggunakan oli asli Pertamina sebagai bahan dasar pencampuran, lalu ditambah oli lain berkualitas lebih rendah.
“Mereka pakai oli asli, lalu dicampur di tandon besar. Itu membuat oplosan sulit dibedakan dari produk resmi—baik warna, kekentalan, maupun aromanya,” ujar seorang sumber yang mengetahui pola distribusi tersebut. Rabu (28/1/2026).
Produk hasil campuran kemudian dikemas ulang dalam drum 200 liter, disegel, dan dipasarkan sebagai oli asli berlabel premium. Pakar Hukum: “Ini Mengindikasikan Pembiaran Sistemik” Assoc. Prof. Dr. Jaidun, S.H., M.H.,, menilai fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai kegiatan kriminal biasa.
Ia menilai praktik yang berulang, masif, dan melibatkan banyak titik distribusi menunjukkan adanya masalah besar dalam tata kelola pengawasan migas.
“Jika oli asli bisa keluar dalam volume besar, kemudian mengalir ke empat gudang tanpa terdeteksi, itu bukan kelalaian. Ini mengindikasikan pembiaran sistemik dalam pengawasan,” tegas Jaidun.
Ia menambahkan, pembiaran semacam ini biasanya terjadi ketika mekanisme kontrol internal tidak berjalan atau sengaja diabaikan.
“Dalam dunia migas, celah pengawasan seperti ini hanya bisa terjadi jika ada yang menutup mata. Ini bukan peristiwa sekali dua kali,” ujarnya.
Pengamat Hukum: Jika Ada Aparat Terlibat, Ini Kejahatan Terorganisir, Assoc. Prof. Dr. Jaidun, S.H., M.H., akademisi dan pengamat Hukum Tatanegara, menilai dugaan keterlibatan oknum aparat adalah aspek yang paling mengkhawatirkan.
“Jika benar ada oknum yang terlibat, penindakan tidak boleh berhenti di pelaku lapangan. Harus menyentuh aktor yang memiliki kewenangan lebih tinggi. Kalau tidak, kasus seperti ini akan terus berulang.
Kalau ada aparat atau oknum Pertamina yang diduga memfasilitasi aliran barang ilegal, maka ini sudah masuk kategori kejahatan terorganisir, bukan hanya pelanggaran perdagangan biasa,” katanya.
Menurut Jaidun, keterlibatan aparat bisa membuat proses distribusi berjalan mulus tanpa hambatan. Aparat memiliki kewenangan kontrol di lapangan.
Jika mereka tidak bekerja, bahkan memberi perlindungan, maka jaringan ini bisa beroperasi bertahun-tahun tanpa tersentuh. Ia menegaskan, negara harus bertindak tegas.
Pertamina Masih Bungkam
Pertamina belum memberikan komentar resmi mengenai dugaan bahwa produk mereka disalahgunakan atau bahwa oknum internal terlibat dalam rantai distribusi ilegal ini. Publik menunggu audit internal dan respons resmi dari BUMN tersebut.
Konsekuensi Jika Terbukti
Jika dugaan terbukti melalui investigasi resmi, konsekuensi yang mungkin muncul antara lain:
• Oknum Pertamina: sanksi administrasi, etik, hingga pidana
• Oknum aparat: penindakan etik, disiplin, hingga pidana penyalahgunaan wewenang
• Pelaku jaringan oplosan: jerat UU Migas, UU Perlindungan Konsumen, KUHP, dan regulasi perdagangan
Keberadaan empat gudang yang diduga menjadi pusat distribusi memperkuat asumsi bahwa jaringan ini telah lama berjalan dan memiliki dukungan dari aktor-aktor kuat.
Sebuah Jaringan yang Terlalu Lama Dibiarkan Kasus ini menguatkan dugaan bahwa terdapat celah pengawasan yang dibiarkan terbuka dalam waktu lama. Ketika oli asli, gudang-gudang besar, dan alur distribusi tidak diawasi ketat, ruang gelap untuk bisnis ilegal semakin lebar.
Redaksi akan terus memantau perkembangan dan meminta klarifikasi dari semua pihak terkait. Hingga berita ini di tayangkan, informasi dari satpam menyebutkan bosnya lagi keluar kota.






